Kalau kamu tanya kenapa aku masih ikut lomba di tengah tubes yang numpuk, jawabannya bukan karena aku jago bagi waktu. Jawabannya lebih sederhana dari itu--dan mungkin agak memalukan untuk diakui. Aku pernah ngecewain tim. Bukan sekali, dan rasanya nempel lama. Sejak saat itu, aku susah tidur kalau tau aku belum cukup usaha buat orang-orang yang udah percaya sama aku di lomba.
Awalnya Cuma OSN, Terus Kebablasan
Waktu SMA, aku ikut OSN Informatika. Lumayan lah hasilnya. Dari situ aku udah kenal competitive programming jauh sebelum masuk ITB, jadi waktu kuliah pun dunia CP bukan hal asing lagi buat aku. Sempat nyoba CTF juga pas kelas 12--penasaran aja. Tapi jujur, aku cupu di sana. Akhirnya balik ke CP dan fokus di situ aja, dan keputusan itu yang akhirnya bawa aku sampai ke Gemastik.
ITB Itu Chaos-nya Beda
Banyak yang tanya gimana aku bagi waktu antara kuliah dan lomba. Jawabannya: susah. Dan aku nggak mau pura-pura gampang. ITB itu level chaos-nya beda dari yang aku bayangin sebelumnya--tubes keluar barengan, deadline padat, dan kalau kamu ikut lomba di tengah itu semua, ada sesuatu yang harus dikorbankan. Nggak ada jalan lain.
Yang aku lakuin waktu itu: pas orang lain istirahat setelah pulang kuliah, aku coba sempetin latihan soal dulu. Dan waktu ngerjain tubes kelompok, aku pilih bagian yang bisa aku selesain cepat--bukan yang paling gampang, tapi yang paling efisien buat aku kerjain--supaya masih ada sisa waktu buat latihan. Tapi satu hal yang nggak pernah aku kompromiin adalah jangan sampai teman kelompok yang kena imbasnya. Itu garis merah buat aku. Akademik tetap nomor satu, karena pada dasarnya kita ke ITB memang buat belajar, bukan cuma buat menang lomba.
Persiapan yang Terasa Bodoh, Tapi Ternyata Jalan
Sebelum Gemastik, aku dan tim latihan rutin di Codeforces--itu biasa. Tapi ada satu hal yang agak unik dari persiapan kita: kita sengaja pakai satu device buat latihan bareng. Kedengarannya ribet dan nggak efisien, tapi tujuannya memang buat simulasi kondisi lomba yang sesungguhnya. Biar kita terbiasa koordinasi, tau kapan harus kasih giliran ke siapa, dan nggak kaget waktu lomba beneran.
Babak penyisihan dilaksanakan online dan ada beberapa masalah teknis di sana--salah satunya soal yang nggak dicetak panitia, jadi agak susah dibaca dan dikerjain. Tapi meskipun ada kendala, kita tetap bisa masuk top 10 dan lolos ke babak final yang diadakan di kampus Telkom Bandung.
Hari yang Hampir Berakhir Sebelum Mulai
Hari pertama di final ada sesi warming up, dan kita hampir diskualifikasi karena telat datang. Itu momen yang bikin jantung copot--bayangin udah jauh-jauh ke sana, persiapan udah matang, tapi bisa gugur gara-gara hal sepele kayak gitu. Entah gimana kita tetap bisa ikut, dan itu jadi wake-up call buat lebih tenang dan teratur di hari berikutnya.
Di babak final, kita coba strategi yang belum pernah kita pakai sebelumnya. Aku bertugas jadi observer--baca soal, identifikasi pendekatan, lalu sampaikan hasilnya ke anggota tim lain untuk dikembangkan dan diimplementasi. Lima belas menit pertama kita gunakan untuk identifikasi soal yang paling bisa diselesaikan, bagi tugas ke masing-masing anggota, dan kalau ada yang stuck--semua fokus ke satu soal bareng-bareng. Cara yang agak aneh di atas kertas, dan jujur aku sendiri nggak yakin ini bakal jalan. Tapi ternyata bisa.
Kita solve 8 soal. Dan pas scoreboard frozen, aku nggak tau harus optimis atau pesimis--penaltinya lumayan berat, dan aku cuma bisa nunggu.
Pas Nama Juara 3 Disebut...
"Juara 3... Universitas Indonesia."
Aku langsung mikir, berarti kita di atas UI? Tapi Binus kayaknya nggak mungkin ngalahin kita kalau dihitung-hitung, jadi siapa yang juara 1? Ternyata UGM tampil luar biasa dan berhak dapat posisi teratas. Dan kita--dengan strategi baru yang baru pertama kali dipake--berhasil duduk di posisi kedua. Rasanya campur aduk: lega, nggak nyangka, dan sedikit nggak percaya sama diri sendiri.
Yang Aku Bawa Pulang
Senang? Iya, tentu. Tapi yang lebih berasa adalah lega. Beberapa temenku di tim udah mau lulus, dan bisa kasih kenangan seperti ini sebelum kita pisah--itu yang paling berarti buat aku. Tapi aku juga harus jujur sama diri sendiri: secara individual, aku masih banyak kurangnya. Skill issue, kalau kata orang. Menang bukan berarti berhenti belajar, justru sebaliknya--hasil ini ngasih tau aku seberapa jauh jarak yang masih harus aku tempuh.
Kalau Kamu Lagi Ragu Mau Mulai
Coba dulu, serius. Tapi kalau udah mulai, bangun komitmen--ke diri sendiri dulu, baru ke tim. Tim yang akrab tapi nggak komitmen itu lebih bahaya dari tim yang biasa aja tapi serius dan mau berjuang bareng. Dan yang paling penting: jangan tinggalkan kuliahmu. Lomba boleh, latihan boleh, tapi jangan sampai teman kelompokmu yang nanggung beban karena kamu kebanyakan latihan soal. Keseimbangan itu bisa dilatih, komitmen juga bisa dibangun--dan dua hal itu yang menurutku paling menentukan seberapa jauh kamu bisa pergi.
